Perlengkapan Hidup

Definisi :

Teknologi menyangkut cara-cara atau teknik memproduksi, memakai, serta memelihara segala peralatan dan perlengkapan. Teknologi muncul dalam cara-cara manusia mengorganisasikan masyarakat, dalam cara-cara mengekspresikan rasa keindahan, atau dalam memproduksi hasil-hasil kesenian.

Masyarakat Lubai yang merupakan masyarakat pedesaan yang sebagai besar hidup dari pertanian mempunyai peralatan dan perlengkapan hidup :

Alat-alat produktif :

Alat-alat yang dipergunakan untuk memotong pohon : Gergaji, Golok ”pisau”, Golok besar ”pisau kampalan”, Beliung; Alat untuk mengali tanah ; Tembilang ”linggis” Cangkul ”sehekop”; Alat untuk memotong rumput : Tengkuit; Alat memecah dan menumbuk padi : Isaran dan Lesung; Alat untuk menangkap ikan : Bubu, Jala ”jale”, Jaring ”pukat”, Gabul dan Sehekap.

Catatan :

Golok (kadang-kadang juga dieja Gulok atau Gollock) adalah nama yang diberikan kepada sejumlah besar pisau dan pendek pedang yang berasal dari Asia Tenggara, terutama dari Indonesia dan Filipina. Ukuran dan bobot bervariasi, seperti halnya pisau bentuk. Mereka cenderung lebih berat dan lebih pendek dari golok, sering digunakan untuk memotong semak dan cabang. Memiliki baik menggiling primer atau lancip dgn sisinya ke depan, yang Golok kurang cenderung kemacetan di kayu hijau dari sisi flat parang. Goloks secara tradisional dibuat dengan kenyal baja karbon yang lebih lembut helai marah daripada pisau besar lainnya. Hal ini membuat mereka lebih mudah untuk berpakaian dan mempertajam di lapangan, meskipun lebih sering juga memerlukan perhatian.

Senjata :

Senjata tradisional Lubai adalah Keris. Keris biasanya dipakai oleh kaum laki-laki dan diletakkan di sebelah depan, dan umumnya dipakai oleh para tokoh adat terutama dalam setiap acara resmi adat, selain itu juga biasa dipakai oleh para mempelai pria dalam acara majlis perkawinan.

Berbagai jenis senjata juga pernah digunakan seperti tombakpedang panjang, dan sebagainya.

Wadah :

Tempat yang digunakan mengangkut padi : Bake, Behunang; untuk mengangkut kayu bakar : Kambu; Untuk menampi beras : Nihu; Untuk tempat ikan : Keruntung.

Alat-alat menyalakan api :

Korek Api ”kusekan”

Makanan :

Dalam dunia kuliner, masyarakat Lubai terkenal dengan Gulai Opor dan Kue-kue basah seperti : Bolu. Sebagai makan pokok, untuk memberikan tenaga dan nutrisi yaitu Nasi, Sayur Mayur. Makanan tambahan seperti Empek – empek. Burge, Rujak Tahu, Buah renggas dibuat dari bahan terigu dan buah pisang. Kue tradisional Lubai : Gule Kuje, Serangi, Gumak, Bole Kuje, Gandus, Engkak renggas, Rusip, Pede, Pengkasam;

Pakaian sehari-hari :

Pakaian sehari-hari orang Lubai disebut dengan pakaian kutan atau kehutan biasa pakaian ini khusus untuk pergi ke Ladang dan kebon Karet. Pakaian santai dirumah berupa kemeja dan celana seperti pakaian masyarakat Indonesia pada umumnya. Pakaian adat pengantin yang merupakan pakaian tradisional dipergunakan untuk acara pesta pernikahan

Tempat berlindung :

Rumah adat Lubai :

Rumah adat Lubai yaitu rumah berbentuk Limas yang merupakan ciri khas wilayah dari Kesultanan Palembang Darussalam. Rumah adat didirikan di atas panggung, berbentuk memanjang, yang biasanya pembangunan menggunakan Kayu Unglin dan Tembesu. Selain ditandai dengan atapnya yang berbentuk limas, rumah tradisional ini memiliki lantai bertingkat-tingkat yang disebut Bengkilas dan hanya dipergunakan untuk kepentingan keluarga seperti hajatan.

Para tamu biasanya diterima di teras atau lantai kedua. Saat ini rumah limas sudah mulai jarang dibangun karena biaya pembuatannya lebih besar dibandingkan membangun rumah biasa. Selain rumah adat masyarakat Lubai membuat rumah panggung biasa dan membangun rumah semi permanent/permanent mengikuti gaya modern saat ini. Untuk tempat berteduh di Ladang dan Kebon karet masyarakat Lubai membuat Danggau dan punduk.

Alat transportasi :

Transportasi udara dari dan ke Lubai sampai saat ini belum ada.

Transportasi darat untuk angkutan umum dari dan ke Lubai berpusat di kota Prabumulih dan Kota Baturaja. Distribusi jalur antar kota dalam provinsi dari Terminal Prabumulih dan Baturaja dari pagi hari sampai malam hari. Pada zaman dahulu kendaraan yang digunakan adalah gerobak pedati yang ditarik oleh Kerbau ataupun Sapi.

Untuk transportasi darat lainnya, kereta api masih digunakan untuk jalur dari kota Prabumulih menuju ke kota Baturaja,

Transportasi laut dari dan ke Lubai tidak ada. Zaman dahulu angkutan sungai digunakan adalah perahu dari sungai Lubai menuju Sungai Rambang, Sungai Ogan dan berakhir di Sungai Musi – Kota Palembang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: