Pembelajaran menurut Hamalik ( 1995 ), adalah merupakan suatu usaha untuk mengkondisikan seseorang untuk belajar. Biasanya mengkombinasikan unsur manusia, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi untuk pencapaian tujuan. Pembelajaran lebih memfokuskan pada siswa untuk belajar secara optimal untuk bisa mencapai tujuan pembelajaran yang maksimal. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan kelas seperti adanya perbedaan individu siswa yang mempengaruhi terhadap pelayanannya secara individu juga.

Brownell dan Van Engen ( 1935 ), bahwa belajar itu pada hakekatnya merupakan suatu proses yang bermakna. Pembelajaran Bahasa Inggris merupakan proses belajar secara realita yang bermakna, dimana siswa dapat secara langsung merangkai kata-kata serta menggunakannya untuk berinteraksi. Thorndike ( 1874 – 1949 ), Mengemukakan teori belajar bahwa pada hakekatnya belajar merupakan proses pembentukan hubungan antara stimulus dan respon. Menurut hukum ini belajar lebih berhasil bila respon siswa terhadap suatu stimulus segera diikuti dengan rasa senang atau kepuasan. Rasa senang atau puas ini bisa timbul sebagai akibat siswa mendapat pujian atau ganjaran, sehingga ia bisa merasa puas dari sukses yang diraihnya dan sebagai akibatnya akan mengantarkan dirinya kejenjang kesuksesan berikutnya. Stimulus linguistik dapat berupa benda, sifat benda, jumlah benda, perlakuan yang tepat terhadap benda tersebut dan hubungan interaksi benda tersebut dengan manusia. Selanjutnya respon yang timbul adalah bunyi bahasa yang sesuai dengan stimulus yang diberikan.

Dalam Buku Belajar dan Pembelajaran 2 Suciati ( 2005:2.2 ), menuliskan pendapat Piaget secara umum perkembangan intelektual anak melalui empat tahapan yaitu sensori motorik ( umur 0 – 2 tahun ), pra operasional ( Umur 2 – 7 tahun ), operasional konkret ( umur 7 – 11 tahun ), dan operasi formal ( umur 11 tahun keatas ). Anak mengenal lingkungan melalui inderanya pada tahap sensori motorik, anak mulai menggunakan bahasa simbol pada tahap pra operasional, anak mampu mengembangkan pikirannya, berpikir logis terhadap respon lingkungannya dan mulai berpikir konkret pada tahap mengenal operasi konkret, sedangkan pada tahap operasi formal anak sudah bisa berpikir abstrak serta mampu menganalisa permasalahan yang dihadapinya.

Hal ini sangat penting dipahami oleh seorang pendidik guna dapat memberikan bimbingan belajar yang sesuai dengan tingkat perkembangan anak, lingkungan sesuai sehingga pola berpikir anak dapat berkembang secara wajar pada tingkat umurnya. Strategi pengelolaan kelas dalam pembelajaran yang menggunakan pendekatan pakem membuat siswa aktif, kreatif serta menyenangkan dapat menambah semangat siswa untuk lebih giat belajar, apalagi guru yang pemegang kendali dalam pembelajaran itu memiliki kharisma seorang guru yang profesional, yang selalu mengedepankan tugas, bertanggung jawab, mampu berinovasi, memiliki dedikasi yang tinggi dalam mencerdaskan anak bangsa.

Sumber http://baliteacher.blogspot.com