Pendahuluan

Pengertian organisasi sosial adalah perkumpulan sosial yang dibentuk oleh masyarakat, baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum, yang berfungsi sebagai sarana partisipasi masyarakat dalam pembangunan bangsa dan negara. Sebagai makhluk yang selalu hidup bersama-sama, manusia membentuk organisasi sosial untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu yang tidak dapat mereka capai sendiri.

Desa orang Lubai :

Sejak diberlakukannya otonomi daerah Istilah desa dapat disebut dengan nama lain, misalnya di Sumatera Barat disebut dengan istilah nagari, dan di Papua dan Kutai Barat, Kalimantan Timur disebut dengan istilah kampung. Begitu pula segala istilah dan institusi di desa dapat disebut dengan nama lain sesuai dengan karakteristik adat istiadat desa tersebut. Hal ini merupakan salah satu pengakuan dan penghormatan Pemerintah terhadap asal usul dan adat istiadat setempat.

Dalam pemahaman Masyarakat Lubai, Desa disebut Dusun. Dusun bagi masyarakat merupakan wilayah bertempat tinggal dan menjadi kebanggaan. Sejak Kerajaan Sriwijaya, Kesultanan Palembang Darussalam, Pemerintahan Hindia Belanda, Pemerintahan Jepang, masa Perjuangan kemerdekaan, masa Republik Indonesia baru merdeka, Orde Baru sampai dengan saat ini desa di Lubai telah mengalami beberapa kali perubahan fungsi dan kedudukanya.

Sehubungan penulis dilahirkan dari sebuah desa bernama Baru Lubai, Kec. Lubai, Kab. Muara Enim Prov. Sumatera Selatan, maka pada tulisan ini tinjauan tentang perubahan fungsi dan kedudukan Desa di Lubai, penulis akan fokus perubahan fungsi dan kedudukan desa Jiwa Baru yang merupakan pengabungan dari 2 desa yaitu desa Baru Lubai dan desa Kurungan Jiwa.

Perubahan-perubahan fungsi dan kedudukan Desa Baru Lubai sebagai berikut :

  1. Masa Hindia Belanda, struktur organisasi pemerintahan desa Baru Lubai terdiri dari : Kerio sebagai Kepala Dusun, dan Penggawa sebagi Kepala Kampung. Fungsi dan kedudukan desa Baru Lubai, dijadikan pusat pemerintahan Marga Lubai Suku I yang tediri dari : dusun Tanjung Kemala, dusun Gunung Raja, dusun Baru Lubai dan dusun Kurungan Jiwa. Sebutan untuk kepala pemerintahan marga adalah Adipati/Depati dengan gelar Pengiran. Dusun Baru Lubai masuk wilayah Onder Afdeeling Ogan Ulu dengan status Pemerintahan Marga meliputi Marga Lubai Suku I, Marga Lubai Suku II dan Marga Rambang Kapak Tengah.
  2. Masa Perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia, struktur organisasi pemerintahan desa Baru Lubai terdiri dari : Kerio sebagai Kepala Dusun, dan Penggawa sebagi Kepala Kampung. Fungsi dan kedudukan desa Baru Lubai, dijadikan pusat pemerintahan Marga Lubai Suku I yang tediri dari : dusun Tanjung Kemala, dusun Gunung Raja,  dusun Baru Lubai dan dusun Kurungan Jiwa. Sebutan untuk kepala pemerintahan marga adalah Depati dengan gelar Pasirah. Desa Baru Lubai masuk Kecamatan Prabumulih, wilayah kewedanaan Lematang Ogan Tengah.
  3. Masa Orde Lama, struktur organisasi pemerintahan desa Baru Lubai terdiri dari : Kerio sebagai Kepala Dusun, dan Penggawa sebagi Kepala Kampung. Fungsi dan kedudukan desa Baru Lubai, dijadikan pusat pemerintahan setingkat desa.
  4. Masa Orde Baru, desa Baru Lubai digabung dengan desa Kurungan Jiwa yang mempunyai nama baru “Jiwa Baru” dijadikan pusat pemerintahan setingkat Desa, kepala pemerintahannya disebut Kepala Desa (Kades).

Pembagian Wilayah

Desa diwilayah kecamatan Lubai pada dasarnya tidak ada perbedaan dengan desa-desa di seluruh tanah air. Pembagian-pembagian wilayah desa-desa di kecamatan Lubai sebagai berikut :

  1. Daerah kediaman utama yang merupakan pusat dari desa, wilayah pemukiman penduduk untuk bertempat tinggdal, tempat masyarakat mengadakan acara-acara seperti : acara keagamaan, acara resepsi pernikahan dan sebagai nya. Pada wilayah ini didirikan rumah-rumah penduduk dari bahan bangunan Kayu dan sebagian sudah menggunakan bahan bangunan Semen.
  2. Daerah perkebonan Karet yang merupakan pusat kegiatan masyarakat Lubai mencari nafkah. Pohon Karet merupakan tanaman utama di wilayah Lubai untuk menghasilkan nilai ekonomi. Tanaman ini banyak dibudidayakan, karena mudah pemeliharaannya dan dapat menghasilkan getah yang merupakan bahan baku kendaraan bermotor.
  3. Daerah peladangan yang merupakan lahan pertanian untuk menanam Padi, Singkong, Nanas, Pisang dan sebagainya. Ladang dalam bahasa Lubai disebut Ume, adapun istilah beladang disebut beume. Biasanya pada lahan peladangan didirikan bangunan kecil untuk tempat bermalam yang disebut Dangau. Jika beladang ditanah darat disebut beume dahat, tapi beladang didekat rawa-rawa/sungai disebut beume lembak.
  4. Desa di Lubai terdiri dari beberapa Kampung yang di pimpin oleh seorang Kepala Kampung.