Pelapisan sosial atau stratifikasi sosial (social stratification) adalah pembedaan atau pengelompokan para anggota masyarakat secara vertikal (bertingkat). Stratifikasi Sosial orang Lubai dapat ditinjau sebagai berikut :

  1. Ukuran kekuasaan
  2. Ukuran kekayaan
  3. Ukuran ilmu pengetahuan
  4. Ukuran kehormatan

1. Ukuran Kekusaaan

Kekuasaan adalah kewenangan yang didapatkan oleh seseorang atau kelompok guna menjalankan kewenangan tersebut sesuai dengan kewenangan yang diberikan, kewenangan tidak boleh dijalankan melebihi kewenangan yang diperoleh atau kemampuan seseorang atau kelompok untuk mempengaruhi tingkah laku orang atau kelompok lain sesuai dengan keinginan dari pelaku (Miriam Budiardjo,2002) atau Kekuasaan merupakan kemampuan mempengaruhi pihak lain untuk berpikir dan berperilaku sesuai dengan kehendak yang mempengaruhi (Ramlan Surbakti,1992) Sumber http://id.wikipedia.org/

Ukuran kekuasaan dan wewenang :

Seseorang yang mempunyai kekuasaan atau wewenang paling besar akan menempati lapisan teratas dalam sistem pelapisan sosial dalam masyarakat yang bersangkutan. Ukuran kekuasaan sering tidak lepas dari ukuran kekayaan, sebab orang yang kaya dalam masyarakat biasanya dapat menguasai orang-orang lain yang tidak kaya, atau sebaliknya, kekuasaan dan wewenang dapat mendatang kan kekayaan.

Kekuasaan orang Lubai pada saat ini dapat di ukur dari jabatan seseorang, seperti menjadi Kepala Desa, Kepala Kampung, Tokoh masyarakat, Tokoh Adat, Tokoh Agama. Pada era zaman pemerintahan Hindia Belanda kekuasaan tertinggi di Lubai bidang pemertintahan disebut Depati yang merupakan kepala pemerintahan marga yang membawahi beberapa desa, bidang agama islam disebut Penghulu yang merupakan pemegang kekuasaan tertinggi di marga Lubai, Kerie sebutan untuk kepala Dusun, Penggawe untuk sebutan kepala kampung.

2. Ukuran Kekayaan

Kekayaan materi atau kebendaan dapat dijadikan ukuran penempatan anggota masyarakat ke dalam lapisan-lapisan sosial yang ada, barang siapa memiliki kekayaan paling banyak mana ia akan termasuk lapisan teratas dalam sistem pelapisan sosial, demikian pula sebaliknya, barang siapa tidak mempunyai kekayaan akan digolong kan ke dalam lapisan yang rendah.

Kekayaan orang Lubai dapat dilihat antara lain pada bentuk Rumah tempat tinggalnya; benda-benda tersier seperti kendaraan roda empat, kendaraan roda dua, lahan pertanian kebon Karet yang dimilikinya, cara berpakaiannya memakai busana yang mahal, mau pun kebiasaannya dalam berbelanja untuk keperluan hidup sehari-hari. Dalam bahasa Lubai kekayaan disebut dengan kekayean.

Contoh yang mudah kita amati di wilayah Lubai adalah bila orang kaya atau mempunyai kebun karet beratus-ratus hektar luasnnya biasanya mempunyai rumah yang mewah terbuat dari beton dengan model modern, sedangkan sebaliknya orang yang  memiliki kebun karet luasnya kurang dari sepuluh hektar biasanya mempunyai rumah yang sederhana terbuat dari papan. Dari hal itu saja jelas sekali terlihat statifikasi sosial sudah terjadi karena bentuk rumah yang mewah itulah menjadi sebuah gengsi bagi pemiliknya karena dinilai berada di kelas sosial tinggi.

3. Ukuran Ilmu pengetahuan

Masyarakat Lubai sering memposisikan seseorang dengan ilmu pengetahuannya. Seseorang yang paling menguasai ilmu pengetahuan akan menempati lapisan tinggi dalam sistem pelapisan sosial masyarakat Lubai. Penguasaan ilmu pengetahuan ini biasanya terdapat dalam gelar-gelar akademik (kesarjanaan), atau profesi yang disandang oleh seseorang, misalnya dokter, insinyur, doktorandus, doktor ataupun gelar profesional seperti profesor. Masyarakat Lubai menempatkan gelar kesarjanaan sebagai lapisan masyarakat tinggi.

4. Ukuran kehormatan

Ukuran kehormatan dapat terlepas dari ukuran-ukuran kekayaan atau kekuasaan. Orang-orang yang disegani atau dihormati akan menempati lapisan atas dari sistem pelapisan sosial masyarakatnya. Ukuran kehormatan ini sangat terasa pada masyarakat tradisional seperti masyarakat Lubai. Masyarakat Lubai pada era zaman Hindia Belanda dan era baru Kemerdekaan Republik Indonesia sangat menghormati orang-orang yang banyak jasanya kepada masyarakat, para orang tua ataupun orang-orang yang berprilaku dan berbudi luhur.

Berdasarkan pengamatan penulis ketika pulang Desa Jiwa Baru Kec. Lubai, Kab. Muara Enim – Prov. Sumatera Selata, bulan Agustus 2008, saat ini terjadi pergeseran ukuran penghormatan kepada seseorang. Hal ini dapat disimpulkan bahwa semakin berkurang rasa hormat para orang muda baca bujang-gadis kepada seseorang usianya lebih tua, maupun kepada orang yang sepatutnya diberi rasa hormat. Contoh : pada tahun 1970-an jika yang muda berjumpa yang lebih tua, akan langsung menyapanya dan akan mencium tangannya.